Sulit rasanya mengingat kejadian kurang lebih tujuh tahun
yang lalu. Namun ada satu bagian yang masih kuingat, kamu. Aku masih mengingat
senyum dengan lesung di pipimu itu, rambutmu, gayamu berjalan, caramu memanggil
namaku, ah aku masih ingat itu. Tak mudah rasanya menghilangkan semua tentangmu
dalam memoriku, seakan-akan hanya kamu yang selalu tinggal menetap di otakku
dan tak mau pergi. Namun kenyataannya bertolak belakang dengan apa yang ada di
kepalaku, kamu pergi jauh ke ibu kota sana mencari kebahagiaan, dan aku disini
menunggu kepulanganmu yang sampai saat ini tak kunjung datang.
Kamu adalah cinta pertamaku, kamu adalah orang yang
memberikanku sebuah rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, kamu adalah
orang yang ingin aku temui setiap harinya. Kamu, orang yang dulu pernah mengungkapkan
perasaannya kepadaku dan aku tak pernah menjawabnya. Hingga tiba saatnya kamu
pergi, aku baru menyadari perasaan sayang yang mulai muncul dihatiku. Ada rasa
penyesalan ketika aku dulu mencampakkanmu, tapi itu dulu, sekarang aku
mencintaimu. Aku begitu mencintaimu, meskipun aku tak pernah mengungkapkannya
kepadamu. Mungkin sudah terlambat untuk mengungkapkannya, mungkin saja sekarang
kamu telah bersama wanita yang kamu cintai dan dia juga sangat mencintaimu. Aku
benci dengan diriku sendiri, mengapa cintaku datang terlambat, mengapa saat kamu telah pergi aku baru mencintainya.
Memang tak ada yang harus disalahkan, aku mencintaimu
saat kamu telah pergi bukanlah keinginanku. Aku hanya belum menyadari arti
kehadiranmu saat itu, aku hanyalah wanita dungu yang tidak tahu mana yang
namanya cinta dan mana yang namanya suka. Tapi rasa suka itu perlahan berubah
menjadi rasa sayang dan berevolusi menjadi rasa cinta.
Kamu memilih pergi bersama keluargamu ke ibu kota,
meninggalkan semua kerabatmu, teman-temanmu, dan juga aku. Aku mengerti alasan kamu
pergi adalah untuk mencari kebahagiaan, karena kondisi keluargamu saat itu
sedang tidak baik. Setahun dua tahun aku tak pernah mendapatkan kabarmu, dan
harus dari mana aku mendapatkannya? Aku tak tahu apa nama facebookmu, twittermu, dan
blogmu. Aku hanya bisa menunggu
kepulanganmu. Hingga tujuh tahun lamanya aku tak pernah melihatmu, mendengarkan
suaramu, candaanmu, tujuh tahun lamanya, bisakah kamu bayangkan aku menunggumu
selama itu. Terlalu lama, hingga aku tak tahu berapa banyak waktuku yang telah
habis karena menunggumu.
Entah bagaimana caranya aku bisa menemukanmu di sosial
media seperti twitter, aku sangat
berterimakasih kepada pembuat akun sosial media ini. Berkatnya, aku bisa
menemukanmu. Ada ragu saat aku akan mengirimkan mention kepadamu, hanya untuk memastikan apakah kamu benar-benar
lelaki yang kutunggu tujuh tahun lamanya atau bukan, dan jika iya aku takut
kamu tidak mengingatku atau bahkan mengenaliku. Butuh beberapa hari
meyakinkanku untuk menyapamu terlebih dahulu, aku hanya takut kamu tak
mengenaliku. Tapi ketakutanku hilang ketika kamu membalas mentionku dan bahkan kamu masih mengingat nama panggilanku saat
kecil. Ada senyum yang terukir ketika aku membacanya, seakan dunia berhenti
saat itu. “Apa kabar?” hanya itu yang bisa aku tanyakan kepadamu, sekedar ingin
tahu bagaimana keadaanmu setelah tujuh tahun lalu. Sebenarnya masih banyak
pertanyaan yang ingin aku ajukan, seperti “Apa kamu masih mencintaiku?” atau “Apakah
kamu masih mau menerima cintaku yang belum sempat aku sampaikan?”. Tapi tidak
mungkin rasanya aku menanyakan hal itu, karena sepertinya rasa cintamu dulu
telah hilang seiring waktu berjalan.
Banyak perubahan yang kutemui pada sosokmu, penampilanmu,
gaya rambutmu dan juga gaya bahasamu. Kini lelaki manis dengan lesung di pipinya
banyak mengalami kemajuan. Kamu sekarang telah menjadi seorang blogger, dan diam-diam aku selalu
membaca setiap postinganmu. Diam-diam mengikuti rutinitasmu di twitter, hanya ingin memastikan apakah
kamu disana baik-baik saja, apakah ada seorang wanita yang telah memikat
hatimu.
Aku tak berharap banyak dengan pertemuan kita di twitter,
juga tak mengharapkan cintamu yang dulu. Aku hanya ingin menemuimu, melihatmu.
Pulanglah ke kampung halamanmu ini, aku begitu merindukanmu, merindukan masa-masa
tujuh tahun yang lalu, saat kamu masih mencintaiku.
Lelaki
yang tak kunjung pulang,
Aku
merindukanmu






















