Entah harus kusebut apa tentang perasaan yang mulai
muncul ini. Awalnya aku tak memiliki perasaan apapun terhadapmu, ya mungkin
cinta datang karena terbiasa, terbiasa ada kamu yang selalu hadir di setiap
malamku.
Sebenarnya bukan kamu yang aku tuju, tapi sahabatmu.
Awalnya aku hanya ingin memperoleh informasi tentangnya melaluimu. Tapi
sepertinya aku gagal. Aku malah terbawa arusmu. Aku termakan oleh semua
perhatian yang selalu kamu berikan, dan aku sekarang malah jatuh cinta padamu.
Ini yang seharusnya aku hindari, aku harusnya tak memakai perasaan sejak awal.
Aku tak bisa mengontrolnya, semua terjadi begitu saja.
Kita sudah saling mengenal sebelumnya, begitupun aku
dengan sahabatmu. Kamu adalah kakak kelasku sewaktu di SD, dan juga kakak dari
temanku. Aku masih ingat pertama kali kita saling membalas message di BBM.
Setiap kali kamu memberikan perhatian kecil yang semakin lama aku menganggapnya
sebagai sesuatu yang berharga.
Kamu sering muncul di setiap malamku, memberikaan sapaan
kepadaku. Itu terlihat sederhana tapi mampu membuatku tersenyum. Aku selalu
menghabiskan separuh malamku hanya denganmu, rela begadang demi kamu agar kamu
tahu hanya aku yang selalu ada buat kamu.
Aku mulai aneh dengan kita, ya kamu juga merasakannya.
Kita yang awalnya tidak begitu akrab dan sekarang kita malah begitu dekat,
sangat dekat. Tibalah saat kamu memintaku untuk tetap dekat seperti ini, menjadi
teman dekat bukan menjadi pasanganmu. Aku jawab ya! Itu adalah jawaban paling
bodoh yang seumur hidupku telah aku lakukan. Harusnya aku tak menjawabnya,
harusnya aku sadar saat kamu memintaku
untuk menjadi teman dekat adalah agar kamu bisa datang dan pergi. Agar saat
yang lain mengabaikanmu, kamu bisa kembali kepadaku. Jahat yah kamu.
Sekarang kita tak lagi saling membalas message di BBM,
dan akupun tak ingin memulainya. Aku tak mau menaruh harapan lagi padamu, aku
juga tak ingin menyakiti diriku sendiri. Biarlah kamu sekarang dengan wanita
yang bodoh lainnya, yang mau dipermainkan olehmu. Semoga kamu cepat sadar.
Kini aku menyadari betapa bodohnya diriku dulu, tak tahu
mana yang tulus dan mana yang hanya
modus, modal dusta. Tapi kini aku belajar dari semua itu. Aku belajar untuk
tidak mengharapkanmu lagi dan belajar untuk tidak memakai perasaan. Kini semua
telah berubah, termasuk aku. Aku berbeda dengan aku yang dulu, yang pernah kamu
permainkan dan aku bukan lagi orang yang mengharapkanmu lagi.
Ingatlah, aku telah
berubah.
Aku berterimakasih kepada Tuhan yang telah menunjukkan
siapa kamu sebenarnya. Tuhan memang baik, menunjukkan padaku saat ini juga.
Bagaimana kalau aku tahu tentangmu nanti? Mungkin aku akan sangat sangat
menyesal. Terimakasih Tuhan :)
Untuk
kamu yang pernah
mempermainkan aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar