Minggu, 25 Mei 2014

Cinta Pertama



            Sulit rasanya mengingat kejadian kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Namun ada satu bagian yang masih kuingat, kamu. Aku masih mengingat senyum dengan lesung di pipimu itu, rambutmu, gayamu berjalan, caramu memanggil namaku, ah aku masih ingat itu. Tak mudah rasanya menghilangkan semua tentangmu dalam memoriku, seakan-akan hanya kamu yang selalu tinggal menetap di otakku dan tak mau pergi. Namun kenyataannya bertolak belakang dengan apa yang ada di kepalaku, kamu pergi jauh ke ibu kota sana mencari kebahagiaan, dan aku disini menunggu kepulanganmu yang sampai saat ini tak kunjung datang.
            Kamu adalah cinta pertamaku, kamu adalah orang yang memberikanku sebuah rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, kamu adalah orang yang ingin aku temui setiap harinya. Kamu, orang yang dulu pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku dan aku tak pernah menjawabnya. Hingga tiba saatnya kamu pergi, aku baru menyadari perasaan sayang yang mulai muncul dihatiku. Ada rasa penyesalan ketika aku dulu mencampakkanmu, tapi itu dulu, sekarang aku mencintaimu. Aku begitu mencintaimu, meskipun aku tak pernah mengungkapkannya kepadamu. Mungkin sudah terlambat untuk mengungkapkannya, mungkin saja sekarang kamu telah bersama wanita yang kamu cintai dan dia juga sangat mencintaimu. Aku benci dengan diriku sendiri, mengapa cintaku datang terlambat, mengapa saat kamu telah pergi aku baru mencintainya.
            Memang tak ada yang harus disalahkan, aku mencintaimu saat kamu telah pergi bukanlah keinginanku. Aku hanya belum menyadari arti kehadiranmu saat itu, aku hanyalah wanita dungu yang tidak tahu mana yang namanya cinta dan mana yang namanya suka. Tapi rasa suka itu perlahan berubah menjadi rasa sayang dan berevolusi menjadi rasa cinta.
            Kamu memilih pergi bersama keluargamu ke ibu kota, meninggalkan semua kerabatmu, teman-temanmu, dan juga aku. Aku mengerti alasan kamu pergi adalah untuk mencari kebahagiaan, karena kondisi keluargamu saat itu sedang tidak baik. Setahun dua tahun aku tak pernah mendapatkan kabarmu, dan harus dari mana aku mendapatkannya? Aku tak tahu apa nama facebookmu, twittermu, dan blogmu. Aku hanya bisa menunggu kepulanganmu. Hingga tujuh tahun lamanya aku tak pernah melihatmu, mendengarkan suaramu, candaanmu, tujuh tahun lamanya, bisakah kamu bayangkan aku menunggumu selama itu. Terlalu lama, hingga aku tak tahu berapa banyak waktuku yang telah habis karena menunggumu.
            Entah bagaimana caranya aku bisa menemukanmu di sosial media seperti twitter, aku sangat berterimakasih kepada pembuat akun sosial media ini. Berkatnya, aku bisa menemukanmu. Ada ragu saat aku akan mengirimkan mention kepadamu, hanya untuk memastikan apakah kamu benar-benar lelaki yang kutunggu tujuh tahun lamanya atau bukan, dan jika iya aku takut kamu tidak mengingatku atau bahkan mengenaliku. Butuh beberapa hari meyakinkanku untuk menyapamu terlebih dahulu, aku hanya takut kamu tak mengenaliku. Tapi ketakutanku hilang ketika kamu membalas mentionku dan bahkan kamu masih mengingat nama panggilanku saat kecil. Ada senyum yang terukir ketika aku membacanya, seakan dunia berhenti saat itu. “Apa kabar?” hanya itu yang bisa aku tanyakan kepadamu, sekedar ingin tahu bagaimana keadaanmu setelah tujuh tahun lalu. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan, seperti “Apa kamu masih mencintaiku?” atau “Apakah kamu masih mau menerima cintaku yang belum sempat aku sampaikan?”. Tapi tidak mungkin rasanya aku menanyakan hal itu, karena sepertinya rasa cintamu dulu telah hilang seiring waktu berjalan.
            Banyak perubahan yang kutemui pada sosokmu, penampilanmu, gaya rambutmu dan juga gaya bahasamu. Kini lelaki manis dengan lesung di pipinya banyak mengalami kemajuan. Kamu sekarang telah menjadi seorang blogger, dan diam-diam aku selalu membaca setiap postinganmu. Diam-diam mengikuti rutinitasmu di twitter, hanya ingin memastikan apakah kamu disana baik-baik saja, apakah ada seorang wanita yang telah memikat hatimu.
            Aku tak berharap banyak dengan pertemuan kita di twitter, juga tak mengharapkan cintamu yang dulu. Aku hanya ingin menemuimu, melihatmu. Pulanglah ke kampung halamanmu ini, aku begitu merindukanmu, merindukan masa-masa tujuh tahun yang lalu, saat kamu masih mencintaiku.

Lelaki yang tak kunjung pulang,
Aku merindukanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar