Adakah yang lebih
membahagiakan kecuali hidup bersama orang yang ternyata kita cintai dan
mencintai kita?
Cinta. Semua orang mempunyai cinta, mempunyai orang yang
dicintainya. Begitu juga dengan aku, aku mempunyai orang yang pernah aku cintai
dan mungkin masih kucintai. Aku tak tahu mengapa perasaan cintaku datang begitu
tiba-tiba, secara tidak sadar masuk ke dalam hati ini.
Cintaku kali ini datang ketika aku masih duduk di kelas
X. Dia, sosok lelaki yang selalu mengisi kertas-kertas kosongku dengan penuh
warna, lelaki yang selalu membuatku bersemangat untuk berangkat sekolah, dia
adalah lelaki dari kelas sebelah. Diam-diam aku selalu mengawasimu dari dinding
facebook, mengikuti semua tentang keseharianmu. Hingga pada akhirnya kita
saling mengenal satu sama lainnya. Aku cukup senang ketika mendapatkan sebuah
pemberitahuan yang berasal darimu, ada senyum yang terukir ketika kamu
mengirimi aku sebuah wall. Kukira rasa suka yang aku rasakan kini telah berubah
menjadi cinta.
Hal yang paling kusukai darimu adalah mata, lebih tepat
tatapanmu. Aku merasa seperti terhipnotis ketika aku menatap ke dalam matamu.
Sorot matamu seperti membawaku kepada perasaan yang semakin mendalam. Yah,
memang benar cinta datang dari mata turun ke hati. Aku tak pernah membicarakan
perasaanku ini kepada siapapun, semuanya tersimpan rapi di dalam hatiku. Aku
hanya tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Aku hanya bisa menunggu.
Hingga saat ini pun aku masih menunggu, tak tahu sampai kapan aku harus menunggunya,
mungkin hingga aku benar-benar lelah untuk menunggu.
Aku senang ketika
memasuki kelas XI, kamu tahu kenapa? Karena aku dapat melihatmu lebih dekat dan
lebih lama. Yah, kita dipertemukan di kelas yang sama. Entah ini kebetulan atau
apa aku tak tahu, yang penting aku merasa bahagia bisa lebih lama memandangmu.
Namun sepertinya bukan aku saja yang dapat memandangmu
lebih lama, temanku pun melakukannya. Dia bukan hanya memandangmu lebih lama,
tetapi bisa jauh lebih dekat denganmu. Dia lebih pintar dariku, pintar untuk
mendekatimu. Dia memiliki cara untuk mendekatimu yang tak pernah kumiliki dan
bahkan tak pernah terpikirkan olehku. Aku kalah bila dibandingkan dengannya
yang perjuangannya begitu besar dalam mendapatkanmu. Aku memang payah dalam hal
percintaan.
Aku tahu, aku terlalu biasa untuk kau cintai. Tikus got
sepertiku ini memang tak pantas mencintai kelinci lucu sepertimu. Tak pantas
untuk terus mengharapkanmu. Tapi nyatanya hanya kamu yang tersimpan di hati
ini, ingin rasanya aku membuang jauh-jauh tentang perasaanku kepadamu tapi aku
tak mampu. Tolong, tolong sadarkan aku jika kamu tak pernah mencintaiku, jangan
biarkan aku terlarut dengan rasaku.
Tiga tahun aku mencintaimu, tiga tahun juga aku
menyembunyikan perasaanku terhadapmu. Pernah terpikir untuk berterus terang
kepadamu tentang perasaan yang kupunya, tapi ku urungkan niatan tersebut, aku
hanya tak berani dengan jawaban yang akan kau berikan. Kuhanya mampu
menunggumu. Rasa bosan sempat menyelimuti pikiranku, saat ku terlalu lama menunggumu.
Hingga tiba saat pengabaian yang terlalu lama, aku memutuskan untuk pergi dari
kehidupanmu. Membiarkan semua hal tentangmu terhapus secara perlahan. Aku
terlalu lelah untuk bertahan demi cinta yang tak pernah kau anggap. Kamu hanya
menganggapku lalu, seperti tak kasat mata aku bagimu.
Rasa lelah mengantarkanku untuk mengalah, biarlah orang
lain yang memilikimu, biarlah orang lain yang mendapatkan cintamu. Aku yakin
suatu saat nanti, aku akan menemukan bahagiaku walau tak bersamamu.
Untuk
kamu
Lelaki
dari kelas sebelah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar