Jumat, 23 Mei 2014

Lelaki dari kelas sebelah



            Adakah yang lebih membahagiakan kecuali hidup bersama orang yang ternyata kita cintai dan mencintai kita?

            Cinta. Semua orang mempunyai cinta, mempunyai orang yang dicintainya. Begitu juga dengan aku, aku mempunyai orang yang pernah aku cintai dan mungkin masih kucintai. Aku tak tahu mengapa perasaan cintaku datang begitu tiba-tiba, secara tidak sadar masuk ke dalam hati ini.
            Cintaku kali ini datang ketika aku masih duduk di kelas X. Dia, sosok lelaki yang selalu mengisi kertas-kertas kosongku dengan penuh warna, lelaki yang selalu membuatku bersemangat untuk berangkat sekolah, dia adalah lelaki dari kelas sebelah. Diam-diam aku selalu mengawasimu dari dinding facebook, mengikuti semua tentang keseharianmu. Hingga pada akhirnya kita saling mengenal satu sama lainnya. Aku cukup senang ketika mendapatkan sebuah pemberitahuan yang berasal darimu, ada senyum yang terukir ketika kamu mengirimi aku sebuah wall. Kukira rasa suka yang aku rasakan kini telah berubah menjadi cinta.
            Hal yang paling kusukai darimu adalah mata, lebih tepat tatapanmu. Aku merasa seperti terhipnotis ketika aku menatap ke dalam matamu. Sorot matamu seperti membawaku kepada perasaan yang semakin mendalam. Yah, memang benar cinta datang dari mata turun ke hati. Aku tak pernah membicarakan perasaanku ini kepada siapapun, semuanya tersimpan rapi di dalam hatiku. Aku hanya tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Aku hanya bisa menunggu. Hingga saat ini pun aku masih menunggu, tak tahu sampai kapan aku harus menunggunya, mungkin hingga aku benar-benar lelah untuk menunggu.
Aku senang ketika memasuki kelas XI, kamu tahu kenapa? Karena aku dapat melihatmu lebih dekat dan lebih lama. Yah, kita dipertemukan di kelas yang sama. Entah ini kebetulan atau apa aku tak tahu, yang penting aku merasa bahagia bisa lebih lama memandangmu.
            Namun sepertinya bukan aku saja yang dapat memandangmu lebih lama, temanku pun melakukannya. Dia bukan hanya memandangmu lebih lama, tetapi bisa jauh lebih dekat denganmu. Dia lebih pintar dariku, pintar untuk mendekatimu. Dia memiliki cara untuk mendekatimu yang tak pernah kumiliki dan bahkan tak pernah terpikirkan olehku. Aku kalah bila dibandingkan dengannya yang perjuangannya begitu besar dalam mendapatkanmu. Aku memang payah dalam hal percintaan.
            Aku tahu, aku terlalu biasa untuk kau cintai. Tikus got sepertiku ini memang tak pantas mencintai kelinci lucu sepertimu. Tak pantas untuk terus mengharapkanmu. Tapi nyatanya hanya kamu yang tersimpan di hati ini, ingin rasanya aku membuang jauh-jauh tentang perasaanku kepadamu tapi aku tak mampu. Tolong, tolong sadarkan aku jika kamu tak pernah mencintaiku, jangan biarkan aku terlarut dengan rasaku.
            Tiga tahun aku mencintaimu, tiga tahun juga aku menyembunyikan perasaanku terhadapmu. Pernah terpikir untuk berterus terang kepadamu tentang perasaan yang kupunya, tapi ku urungkan niatan tersebut, aku hanya tak berani dengan jawaban yang akan kau berikan. Kuhanya mampu menunggumu. Rasa bosan sempat menyelimuti pikiranku, saat ku terlalu lama menunggumu. Hingga tiba saat pengabaian yang terlalu lama, aku memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu. Membiarkan semua hal tentangmu terhapus secara perlahan. Aku terlalu lelah untuk bertahan demi cinta yang tak pernah kau anggap. Kamu hanya menganggapku lalu, seperti tak kasat mata aku bagimu.
            Rasa lelah mengantarkanku untuk mengalah, biarlah orang lain yang memilikimu, biarlah orang lain yang mendapatkan cintamu. Aku yakin suatu saat nanti, aku akan menemukan bahagiaku walau tak bersamamu.

Untuk kamu
Lelaki dari kelas sebelah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar